Pagi ini tiba-tiba saya mendengar satu lagi berita tentang penyalahgunaan situs jejaring sosial (untuk kali ini mari kita mengambil contoh facebook) di indonesia. Saya tidak jelas mendengar apa yang terjadi, mendengarpun itu tidak penting. Mungkin tentang pelecehan seksual, backstreet relationship, kabur dari rumah, accelerated adolescence, dan/atau lain-lain.
Yang ingin saya utarakan adalah kesalahan cara pandang masyarakat awam yang mungkin dipicu oleh kesalahan media dalam menyampaikan berita tentang penyalahgunaan facebook di indonesia. Media menyampaikan begitu dramatis, (jelas saja, yang mereka pikirkan adalah rating mereka, bukan dampak sosial yang terjadi pada masyarakat awam). Media benar-benar menyampaikan berita tersebut seakan-akan yang menjadi penyebab masalah adalah situs jejaring sosial.
Padahal kenyataannya, yang bersalah adalah penggunanya sendiri. Oke, mari kita lihat dari sisi privasi. Facebook sudah berkali-kali memperbaiki pengaturan privasinya. Dulu informasi dalam facebook sangat mudah diakses, namun sekarang kita bisa mengontrol informasi apa yang kita tampilkan, status update, wall post, tautan, foto, dan video dapat kita proteksi dengan cara yang mudah, banyak pengaturan tentang privasi. Barang apa yang bsia dilihat oleh teman, teman dari teman, atau orang tidak dikenal. Hanya saja, pengaturan privasi ini sangat jarang digunakan oleh masyarakat awam. Mereka melakukan sesuatu berdasarkan apa yang didengar, bukan membaca. Padahal setiap ada fitur atau informasi penting facebook selalu menyampaikan di halaman rumah (beranda/home). Hingga surat elektronik dari Mark Zuckerbergpun pernah muncul di beranda. Nah, menurut saya, dari sisi privasi, facebook tidak bersalah, karena facebook sudah berkali-kali meningkatkan privasi penggunanya, dan setiap kali ada info baru, facebook selalu menyampaikannya lewat halaman yang paling mudah diakses. Masalah terhadap bahasa? Ada pengaturan bahasa di bagian terbawah halaman awal, http://www.facebook.com/ajax/intl/language_dialog.php?uri=http://www.facebook.com
Yang kedua, masalah Term of Use. Masyarakat awam dan media menyalahkan (atau mungkin menyesal atas adanya) facebook, karena terjadinya kecelakaan terhadap anak-anak mereka. Oke, mari kita lihat ke belakang. Anak-anak yang menjadi korban pelecehan ini adalah di bawah umur delapanbelas tahun. Iya kan? Dan pada dasarnya, facebook MELARANG anak di bawah tigabelas tahun untuk menggunakan facebook. Mengapa? Karena memang facebook mengerti bahwa anak di bawah tigabelas tahun masih labil. Di Indonesia ukuran dewasa adalah delapanbelas. Mereka belum dewasa, mungkin sebagian sudah. Namun kedewasaan itu belum sempurna. Anak-anak di bawah tigabelas tahun masih mudah terpengaruh. Mereka impulsif, mereka sangat suka mencoba hal yang baru. Bahkan yang berbahaya untuk mereka, seperti kopi darat, dan sebagainya. Lalu apa salah facebook? Yang berbohong kan penggunanya, menyatakan bahwa sudah di atas tigabelas. Dan meskipun mereka memang di atas tigabelas, emosi dan libido mereka masih belum stabil. Mereka jelas masih labil dan perlu PENGAWASAN DARI ORANG TUA.
Yang ketiga, masalah abusive content dan/atau nudity/pornography. Mungkin memang sangat sedikit anak-anak pengguna facebook yang memasang foto profil mereka sedang telanjang, sedang berciuman, atau bahkan sedang melakukan kekerasan. Namun banyak yang memasang foto yang menyerupai tindakan tersebut. misalkan berfoto alay (pengambilan foto dengan angle dari atas melalui tangan sendiri) hingga membuat payudara mereka lebih terlihat besar, memonyongkan bibir agar terlihat seksi (bagi beberapa orang tidak termasuk saya), dan lain-lain. Sebenarnya hal itu sendiri yang memicu lawan jenis melakukan pendekatan, mereka berpikir bahwa pengguna yang ini terlihat hot, merangsang, dan bisa jadi “sasaran empuk”. Jadi sekarang bisa kita lihat, siapa yang memulai masalah. Siapa yang menyulut api.
Jadi, sekarang siapa yang patut disalahkan? Pengguna facebook, Orang Tua, Mark Zuckerberg, Tim Berners-Lee, Charles Babbage, atau bahkan Saya? Semuanya kembali ke diri masing-masing.
Mungkin begitu saja dari saya. Saya bersyukur memunyai orang tua yang tidak kolot dan bisa berpikir luwes. Mereka tidak hanyut dalam isu yang subyektif meskipun kami semua adalah keluarga yang awam.
Posted on 3 Juni 2010
0